Sabtu, 22 Februari 2020

Manaqib Pesantren Singo Manjat


Kyaii Imam Rozi (Singo Manjat) adalah pendiri Pondok Pesantren Singo Manjat Tempursari Klaten. Ia leluhur atau cikal bakal masyarakat Tempursari Klaten, yang keturunannya dan santrinya tersebar ke berbagai daerah.
Ia yang membawa misi ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah, mendirikan tempat-tempat ibadah, pondok pesantren dan majlis taklim, baik di Jawa tengah, Jawa Timur, maupun di Jawa Barat.
Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro.
Pada usia 24 tahun, Imam Rozi bergabung dengan Pangeran Diponegoro menentang dan memerangi penjajah Belanda, bersama Kiai Mojo dan para pejuang lainnya. Ia diangkat sebagai manggala yudha atau panglima perang dan sebagai penghubung antara Pangeran Diponegoro dan Paku Buwono VI Surakarta.
Pada saat Imam Rozi bersama Pangeran Diponegoro ditahan penjajah di Semarang, Pangeran Diponegoro menyuruhnya melarikan diri dari tahanan dan menghadap Paku Buwono VI dengan membawa surat dari Pangeran Diponegoro. Isi surat itu antara lain memohon Paku Buwono VI menugasinya berdakwah di Surakarta bagian Barat, mencarikan jodoh untuk mendampingi perjuangannya, dan disediakan tanah perdikan.
Tahun 1833 M ia telah melaksanakan tugas tersebut dan memilih Desa Tempursari sebagai tempat tinggal setelah mendapatkan bimbingan dan petunjuk ruhaniah dari Nabi Khidzir. Maka pada saat itu berdirilah Masjid Tempursari, yang kemudian berkembang pesat. Barulah pada tahun 1837 M Paku Buwono VI menjadikan tanah Tempursari sebagai tanah perdikan.
Kiai Imam Rozi menikah empat kali. Istri-istrinya yaitu R.A. Sumirah, saudara sepersusuan Pangeran Diponegoro, Ny. Ahadiyah (Ny. Kedung Qubah, cucu Kiai Syarifuddin Gading Santren), Ny Marfu’ah (Mlangi Yogyakarta), dan Ny. Sudarmi (Karangdowo). Kiai Imam Rozi wafat pada tahun 1872 dalam usia 71 tahun dan dimakamkan di Tempursari. Pengelolaan Pondok Pesantren diteruskan oleh menantunya, Kiai Zaid, kemudian diteruskan menantu Kiai Zaid, yaitu Kiai Muhammad Thohir, dan akhirnya diteruskan K.H. Abdul Muid bin Muhammad Thohir.
Kiai Abdul Mu’id (Mursyid Thariqah Syadziliyyah)
Kiai Abdul Muid adalah dzuriyah keempat Kiai Imam Rozi melaui jalur Ibu Ny. Thohir, putri Kiai Zaid, yang berasal dari Gabudan, Solo.
Nasab Kiai Abdul Muid secara lengkap yaitu KH. Abdul Muid bin Kiai Muh Thohir bin Kiai Ali Murtadlo bin Kiai Nur Hamdani bin Kiai Zainal Ali bin Kiai Abdus Shomad Cilongok, Purwokerto, Banyumas. (Putra Syarifah Sinah binti Sultan Hasanuddin Banten bin Syarif Hidayatullah bin)
Syarifah Sinah itu istri dari Sayid Alwy Al-Hadad bin Sayid Abdurrahman.
Ayahandanya, Kiai Muhammad Thohir, berasal dari Banyumas, yang nyantri di Tempursari pada masa Kiai Zaid, yang akhirnya menjadi menantu dan meneruskan pengelolaan Pesantren Tempursari. Ia kemdian dikaruniai anak semata wayang, yaitu K.H. Abdul Muid.
Sejak kecil sampai umur 14 tahun Abdul Muid dididik oleh ayahandanya sendiri. Setelah umur 14 tahun, ia diserahkan kepada Syaikh  Abdurrahman Alhasany Somolangu, Kebumen, dan tinggal di sana sampai beberapa tahun.
Kemudian ia diserahkan kepada KH. Idris bin Zaid, pendiri ke 2 Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, yang masih pamannya sendiri dari pihak ibu, sampai akhirnya ia diberi ijazah sanat dan dibai’at sebagai mursyid Thariqah Syadziliyah yang ke-34.
Guru-gurunya yang lain masih banyak, diantaranya adalah Kiai Abdurrahman Thengklik, Panasan, Boyolali. Setelah kembali dari pesantren, ia mulai menyebarkan apa-apa yang diperolehnya dari para gurunya melalui Pesantren Tempursari.
Kiai Abdul Muid mempunyai beberapa keistimewaan. Al-Kisah, pada suatu hari ada seorang santri yang berbaur dengan santri-santri Tempursari, mereka tidak tahu dan tidak kenal siapa dia. Setelah beberapa lama, santri tersebut menghadap sang kiai dan minta izin pamit pulang.
Ketika ditanya siapa namanya, ia menjawab dengan nama samaran (Bunyamin). Pada saat itu pula KH. Abdul Muid tahu bahwa sesungguhnya ia adalah Nabi Khidzir. Setelah peristiwa itu, ia sering sekali datang ke pesantren itu, membawa hikmah ilahiyah.
Kitab yang paling sering dibaca bersama para santrinya, antara lain, di bidang fiqh kitab I’Anah Al-Tholobin. Di bidang tauhid, kitab Ad-Dasuqi. Di bidang tasawuf, kitab Ihya’ Ulumuddin. Di bidang tafsir, kitab Jalalain.
Diantara para muridnya adalah Kiai Mudatsir (Jaten, Jimus, Polanharjo, Klaten), K.H. Ahmad Shodiq bin Raden Musthofa (Pasiraja, Purwokerto), KH. Ali Syuhudi (Nalan, Candirejo, Ngawen, Klaten), Kiai Ahmad Hilal (Tojayan, Kebonarum, Klaten), KH. Nawawi (Badean, Rogojampi, Banyuwangi), KH. Muh Ma’ruf Mangunwiyoto (Jenengan, Solo, murid sekaligus anak), KH. Masyhudi (Prambon, Madiun), KH. Shofawi (pendiri Masjid Tegalsari, Solo dan pendukung berdirinya Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo), Kiai Abu Su’ud (Jaten, Jumus, Polanharjo, Klaten), KH. Muhammad Idris (Kacangan, Boyolali).
Jumat Pahing, 8 Shafar 1360 H/7 Maret 1941, KH. Abdul Mu’id wafat pada usia ke-63. Menjelang wafatnya, dibacakan surat Yasin. Ketika sampai pada ayat yang berbunyi “Qiladkhulil Jannah” (Dikatakan, masuklah ke dalam surga), ia menjawab, “Insya Allah”, dan kemudian ia menghembuskan nafas terakhir. Jenazahnya dikebumikan di Komplek Makam Tempursari.
Ia menikah empat kali. Istri pertama, Ny. Rodiah, melahirkan KH. Ma’ruf Mangunwiyoto, Jenengan, Solo. Lalu, Ny. Robikhah, Istri KH. Jufri, Petak, Susukan, Salatiga. Berikutnya Ny. Rohilah, istri Kiai Nursalim, Semowo, Salatiga. Istri kedua, Ny Latifah, melahirkan Ny. Munfarijah, istri Kiai Abu Su’ud, Jaten, Polanharjo, Klaten.
Istri ketiga, Ny. Thohiroh, melahirkan Ny. Umi Sarah, istri Kiai Marzuki, Karangmojo, Ceper, Klaten (Keistimweannya, bisa membedakan makanan halal dan yang haram. Kalau haram bentuknya makanannya menjadi ulat). Lalu, Kiai Muh Sahli, Tempursari, Klaten. Kemudian, Ny. Hj. Shofiyah istri KH. Umar Abdul Manan, Mangkuyudan, Solo. Selanjutnya, berturut-turut Kiai Abdul Hayyi, Mlangi, Demak Ijo, Sleman. Kiai Muhyidin menantu KH Muhammad Sami’un (Mursyid Thariqah Syadziliyah), Parakan Onje, Karangsalam, Purwokerto. Kiai Badrudin, Tempursari Klaten, dan KH. Imam Muftaroh, Pencol, Randusana, Geneng, Ngawi. Sedang istri keempat, Nyai Drono tidak dikarunia seorang anakpun.‎

Manaqib Syaikh Khotib As-Sambasi (Maha Guru Ulama Nusantara)


Salah seorang ulama Indonesia paling berpengaruh sepanjang abad 19, yang juga pendiri tarekat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah (TQN) yang tersebar luas di Nusantara, terutama di Jawa. Beliau juga dikenal sebagai cendekiawan ulung terutama di bidang ilmu agama, seperti Qur’an, hadits, fiqih, kalam, dan, tentu saja, tasawuf.
Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Perkumpulan Tarekat ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua Tarekat sufi besar. yakni Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah.
Kehidupan Awal Beliau
Syaikh Achmad Khotib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.Sebagai sebuah daerah yang dibangun oleh Raja Tengah, keturunan dari Raja Brunei Darussalam, pada tahun 1620 M. dan menobatkan diri sebagai sebuah kerajaan sepuluh tahun kemudian. Maka wilayah Sambas adalah daerah yang telah memiliki ciri-ciri kemusliman khusus sejakRaden Sulaiman yang bergelar Muhammad Tsafiuddin dinobatkan sebagai Sultan Sambas pertama.
Pada waktu itu, rakyat Sambas hidup dari garis agraris dan nelayan. Hingga ditandatanganinya perjanjian antara Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin (1815-1828) dengan pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1819 M. Perjanjian ini membentuk sebuah pola baru bagi masyarakat Sambas yakni, perdagangan ‎maritim.
Dalam suasana demikianlah, Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut.‎
Masa pendidikan Beliau 
Achmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M. 
Dari pernikahannya Ia dikaruniai tiga orang anak. Putera-puterinya bernama: Syekh Yahya, Siti Khadijah, dan Syekh Abdul Gaffar. Dari 3 orang anak Syekh Ahmad Khatib Sambas tersebut seterusnya mempunyai keturunan dan beranak cucu, hingga di antara keturunan beliau itu sekarang banyak yang tinggal di Singkawang. Mereka diperkirakan adalah keturunan kelima dan keenam. Di antara mereka itu ialah: Bapak S Chalidi (almarhum) yang tinggal di Sekip Lama Singkawang, Bapak S Hamidi, tinggal di Jl Ali Anyang Singkawang dan Saihah, Aminah, S Ramli, Fatomah, Haimunah, dan S Ahmadi yang tinggal di Jalan Ali Anyang Singkawang.
Guru-gurunya : ‎
1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas. ‎
2. Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari‎
3. Syeh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah) seorang alim besar dan mursyid tarekat Syattariyah. ‎
4. Syeh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah) ‎
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syeh Ahmad al-Marzuqi ‎
7. Syeh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah. 
Syekh al-Fatani lah yang memperkenalkan Syekh Ahmad Khatib kepada Syekh Syams al-Din, seorang mursyid dari Tarekat Qadiriyyah. Peristiwa agak aneh dan menimbulkan tanda tanya, yakni mengapa Syekh Ahmad Khatib Sambas tidak ikut pada tarekat guru pertamanya itu, padahal pada waktu itu Tarekat Syattariyyah bisa dikatakan cukup dominan dalam penyebarannya hingga akhir abad 19.
Syekh Syams al-Din ini amat mempengaruhi kehidupan Syekh Ahmad Khatib Sambas, dan Syekh Ahmad Khatib menjadi muridnya yang terbaik. Kelak Syekh Ahmad Khatib inilah yang menggantikan posisi gurunya sebagai mursyid Tarekat Qadiriyyah. Tetapi tidak diketahui dengan pasti dari siapa Syekh Ahmad Khatib Sambas menerima ijazah Tarekat Naqsyabandiyyah. Guru-guru lainnya diantaranya adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (mursyid Tarekat Sammaniyah), Syekh Bisyri al-Jabarti, Sayyid Ahmad al-Marzuqi, Sayyid Abd Allah ibn Muhammad al-Mirghani dan Utsman ibn Hasan al-Dimyati.
Peran Perjuangan Syaikh 
Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air. Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. 
Syekh Ahmad Khatib Sambas adalah mursyid dari dua tarekat, meskipun kemudian dia tidak mengajarkannya secara terpisah, melainkan dikombinasikan. Kombinasi ini bisa dianggap sebagai bentuk tarekat baru yang berbeda dari dua tarekat sumbernya. Karenanya di Indonesia beliau dikenal sebagai pendiri Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Penyebaran tarekat ini juga dibantu oleh tersebar luasnya kitab karangan beliau, Fath al-Arifin, salah satu karya paling populer untuk praktik sufi di dunia Melayu. Kitab ini menjelaskan unsur-unsur dasar ajaran sufi, seperti baiat, zikir, muraqabah, silsilah (mata rantai spiritual) Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur. Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah. 
Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. 
Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara. Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam. 
Peranan dan Karyanya Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini. Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan. 
Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah. Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini. Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. 
Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam. Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir. 
Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa’id al-’Amudi dan Ahmad Ali. 
Ajaran Beliau
Ajaran Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur'an, Al-Hadits, dan perkataan para 'ulama arifin dari kalanganSalafus shalihin.
Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah m‎empunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan karena Syekh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut kedua Tarekat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.
Survey tentang sejarah Tarekat Qadiriyahdan Tarekat Naqsyabandiyah mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia.
Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyahsecara substansial merupakan aktualisasi seluruh ajaran Islam (Islam Kaffah); dalam segala aspek kehidupan. Tujuan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah adalah tujuan Islam itu sendiri. Menurut sumber utamanya, Alquran, Islam sebagai agama diturunkan untuk membawa umat manusia ke jalan yang lurus, jalan keselamatan yang bermuara pada kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (hasanah fi al-dunya dan hasanah fil al-akhirat).
Pandangan filosofis Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah mengenai hubungan kemasyarakatan, baik dengan sesama muslim mahupun dengan yang bukan muslim, dapat dilihat dalam bagian uraian Tanbih berikut:
1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi dari kita, baik zahir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun saling menghargai.
2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati bergotong- royong dalam melaksanakan perintah Agama maupun Negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaaan, kalau-kalau kita terkena firmanNya “Adzabun Alim” yang artinya duka nestapa untuk selama-lamanya dari dunia hingga akhirat;
3. Terhadap orang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah menghinanya atau berbuat tidak senonoh bersika angkuh, sebaliknya harus bersikap belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya harus dituntun dan dibimbing dengan nasihat yang lemah lembut yang akan memberi keinsafan dalam menginjak jalan kebajikan;
4. Terhadap fakir miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan.‎
Metode dan ajaran zikir
Metode zikir tarekat ini menggunakan dua bentuk, zikir keras (jahar) dan diam (khafi). Untuk zikir keras beliau menggunakan teknik zikir dengan membaca laa ilaha illa Allah (kalimat nafy-itsbat) sebagaimana dipraktikkan dalam Tarekat Qadiriyyah. Sedangkan zikir “diam” menggunakan teknik dari Naqsyabandiyyah, yakni menyebut ism al-dzat: Allah. Namun praktik ini sedikit dimodifikasi dengan memasukkan unsur zikir Naqsyabandiyyah, di mana zikir kalimat tahlil itu dilakukan dengan mengacu pada titik-titik latha’if (pl: lathifah) yang ada dalam tubuh manusia sebagaimana diajarkan dalam Tarekat Naqsyabandiyyah. 
Tetapi dalam perkembangannya, meski prinsip dasarnya sama, namun kaifiyyah dalam beberapa otoritas TQN yang belakangan tampak sedikit berbeda, misalnya kaifiyyat zikir jahr TQN Suryalaya dengan TQN al-Utsmani memiliki sedikit perbedaan dalam penekanan pada hentakan dan tempo zikir, dan juga ada perbedaan dalam zikir khafinya. Demikian pula ada sedikit perbedaan dalam jumlah zikir khafi TQN Suryalaya dengan TQN Mranggen di bawah otoritas Kyai Muslih.. Walau demikian, prinsip dan tujuannya tetaplah sama – variasi itu tidak mengubah substansi dari amalan TQN secara keseluruhan. Berikut sedikit prinsip umum metode zikir TQN – namun penjelasan di bawah lebih didasarkan pada kaifiyyah dari TQN Suryalaya.
Zikir jahar la ilaha illa Allah dilakukan dengan membayangkan semacam garis imajiner yang melewati lathaif. Fungsi “penarikan” garis zikir itu, yakni dari bawah ke atas, lalu ke kanan dan kiri (untuk pemula yang belum berpengalaman dianjurkan dengan menggunakan gerak kepala, sehingga dari luar tampak mereka berzikir dengan menggeleng-gelengkan kepala) adalah agar kekuatan kalimat itu menyentuh titik-titik lthaif.
Gerakan simbolik dari zikir nafi-itsbat dimaksudkan agar semua lathifah tersebut, yang diyakini merupakan pusat pengendalian nafsu dan kesadaran jiwa dan spiritual, teraliri dan terkena energi dan panas zikir tahlil tersebut. Zikir pada mulanya pelan, dan cenderung lebih panjang tarikan bacaannya, tetapi kemudian temponya dipercepat dan suara makin meninggi, agar tercapai kondisi semacam “ekstase.” Percepatan bacaan ini juga dimaksudkan untuk membentengi pikiran dari “lintasan pikiran” (khatir) yang mengganggu hati, sehingga seluruh konsentrasi tertuju pada Allah saja.
Kitab Fath al-Arifin menggambarkan sepuluh lathifah, lima diantaranya yg utama adalah qalb,ruh, sirr, khafi, dan akhfa, yang dikenal sebagai alam al-amr (alam perintah). Lima lathifah lainnya adalah nafs, plus empat unsur: air, udara, tanah dan api (alam al-khalq).
Pada Naqsybandi dan tarekat cabang-cabangnya, termasuk TQN, ada satu lathaif yang barangkali paling tinggi dan sulit dicapai, yakni kullu jasad. Ini adalah kondisi “tanpa titik” di mana totalitas insan (dimensi ruh, kognitif, dan fisik) telah dawam dalam berzikir dan “menjadi” zikir itu sendiri. Itu adalah saat laya r kesadaran menjadi tanpa tepi dan siap menerima limpahan (faid) ilmu dan rahasia-rahasia ruhani dari Allah.
Murid-Muridnya antara lain 
1. Syeh Nawawi Al Bantani
2. Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura ‎
3. Syeh Abdul Karim Banten‎
 4. Syeh Tolhah Cirebon 
Syeh Nawawi Al Bantani dan Syeh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syeh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syeh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah. 
Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 
Sedangkan Syeh Muhammad Kholil, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 
Murid murid Syeh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb. 
Sebagai contoh, Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain : 
1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional. 
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri. 
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971). 
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah 
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon. 
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia. 
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah. 
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso. 
‎12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep. 
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf. 
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan 
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. 
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.‎
 
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.‎
23. KH. Zainudin : Nganjuk ‎
24. KH. Maksum : Lasem ‎
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung ‎
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.‎
27. KH. Munajad : Kertosono‎
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang ‎
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang‎
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura ‎
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi ‎
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura. ‎
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso ‎
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat ‎
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik ‎
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali. 
Dari tiga murid Syeh Ahmad Khatib Sambas,  Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berkembang luas : 
 
1-. Syeh Abdul Karim Banten mempunyai murid : H. Sangadeli Kaloran, H. Asnawi Bendung Lempuyang, H. Abu Bakar Pontang, H. Tubagus Isma’il Gulatjir dan H. Marzuki Tanara. Dari semua muridnya ini yang paling terkenal adalah yang disebut paling akhir. Dimana, sepulang dari Mekkah H. Marzuki Tanara mendirikan pondok pesantren di tempat kelahirannya (Tanara). Di Tanara ia mengajar dari tahun 1877-1888. Dua ulama terkemuka Banten, Wasid dan Tubagus Isma’il sering berkonsultasi kepadanya tentang masalah agama dan masalah yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Syeh Abdul Karim Banten sempat pulang ke Banten pada tahun 1872, membangkitkan perlawanan terhadap  Belanda yaitu peristiwa pemberontakan petani Banten yang sejatinya adalah perlawanan para pengilkut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 
Pada tahun 1876 Syeh Abdul Karim Banten kembali ke Mekkah menggantikan posisi Syeh Ahmad Khatib Sambas yang telah wafat. TQN centre dari jalur Syeh Abdul Karim Banten selanjutnya berpusat di Pagentongan Bogor dibawah asuhan Syeh Thohir Falak. 
2- Syeh Tolhah Cirebon mempunyai murid Syeikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) yang berguru selama 25 tahun kepada Syeh Tolhah, kemudian diperintahkan oleh gurunya untuk mendirikan pesantren Suryalaya di Tasikmalaya yang kemudian diteruskan oleh anaknya Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom). ‎
3- Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura memberikan estafet Mursyid kepada Syeh Ahmad Hasbullah di Rejoso Jombang, kemudian diteruskan kepada Syeh Khalil diteruskan kepada Syeh Romli Tamim, pimpinan pesantren Rejoso Jombang, diteruskan kepada anaknya Musta’in Romli ketua Jamiah Ahlul Thoriqot Muktabaroh. Ketika Syeh Mustain Romli berafiliasi ke Golkar, para pengurus Jamiah Ahlul Thoriqoh Muktabaroh membentuk JATMAN (Jamiah Ahlul Thoriqoh Muktabaroh An Nahdliyah) yang tetap berafiliasi ke NU dengan ketua Syeh Adlan Ali, salah satu murid Syeh Romli Tamim, pimpinan pesantren Cukir Jombang. 
Sepeninggal Kyai Adelan Ali ketua JATMAN dijabat oleh Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan (Tarekat Syadziliyah) sampai sekarang. Syeh Romli Tamim juga mempunyai murid Syeh Muslih pesantren Mranggen Semarang yang mengembangkan tarekat TQN di Jawa Tengah.

Senin, 17 Februari 2020

Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani









 MANAQIB SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANI
TAWASSUL
A’uu-dzu Billahi minasy syai-thaa-nir rajiim
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Ilaa Hadl-ratin Nabiyyil Mush-thafaa Sayyidinaa Muhammadin Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallama Wa ‘Alaa Aa-lihii Wa Ash-haa-bihii Wa Azwaa-jihii Wa Aulaa-dihii Wa Dzurriyatihii Wa Ahli Baitihii Ajma’iin.
Kepada Nabi yang terpilih, junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya, putra-putranya dan keturunannya serta ahli keluarganya semua.
Tsumma Ilaa  Arwaa-hi ikh-waa-nihii Minal Ambiyaa”i Wal Mursaliin. Wal Auliyaa”i Wasy Syuhadaa”i Wash Shaa-lihiin. Wal ‘Ulamaa”il ‘Aa-milii-na Wa Ilaa Jamii’il Malaa”ikatil Muqarrabiin.
Dan kepada para handai taulannya dari para nabi, para rasul, para wali, para syuhada’, orang-orang sholeh, para ulama’ yang mengamalkan ilmunya, dan para malaikat yang selalu dekat kepada Allah.
Tsumma Ilaa Ruu-hi Sayyidinal Imaam, Al Quth-bir Rabbaa-nii Wal Ghau-tsish Shamadaa-ni Sul-thaa-nil Auliyaa”i Sayyidinasy Syai-khi ’Abdil Qaa-dir Al Jailaa-nii Qaddasallahu Sirrahuu Wa Azwaa-jihii Wa Aulaa-dihii Wa Dzurriyyatihii Wa Ahli Baitihii.
Kemudian kepada ruhnya pemimpin kami, rajanya para wali, wali quthub, penolong segala hajat, pembesarnya para wali yang cemerlang Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Semoga Allah mensucikan rahasianya juga istri-istrinya, putra-putranya, cucu-cucunya, dan ahli keluarganya.
Tsumma Ilaa Ruu-hi Sayyidinal Imaam, Hujjatil Islaam, Asy Syai-khi Abii Haa-mid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazaa-li
Kemudian kepada ruh junjungan kami, pemimpin kami bukti kebenaran Islam Syeikh Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali.
Wa Ilaa Ruu-hil Quth-bisy Syai-khi Muhammad Kholiil Al Bankalaa-nii
Kemudian kepada ruhnya, wali quthub, Syeikh Kholil Bangkalan,
Wa Ilaa Ruu-hi Asy Syai-khi Mukh-taar Syafaa’at Banyuwangi
Kemudian kepada ruhnya Syeikh Mukhtar Syafa’at Banyuwangi
Wa Hadl-ratisy Syai-khi Gus ‘Aa-rifiin bin ‘Alii bin Hasan U-shuu-lihim Wa Furuu’ihim
Kemudian kepada Syeikh Gus Arifin bin Ali bin Hasan dengan semua nasab keturunannya
Tsumma Ilaa Jamii”i Arwaa-hi Aa-baa”inaa Wa Ummahaa-tinaa Wa Ajdaa-dinaa Wa  Jaddaa-tinaa Wa Ikh-waa-ninaa Wa A-khawaa-tinaa, Wa Jamii”i Ustaa-dzina Wa Asaa-tii-dzi Ustaa-dzinaa Wa Jamii”i Ma-syaa-yi-khinaa Wa Ma-syaa-yi-khi Ma-syaa-yi-khinaa Wa Jamii”i Man Lahuu Haqqun ‘Alainaa Wa Kaaffatil Muslimii-na Wal Muslimaa-ti Wal Mu’minii-na Wal Mu’minaat
Kemudian kepada para bapak ibu kami, kakek nenek kami, handai taulan kami, para ustadz kami, ustadznya para ustadz kami, para guru kami, gurunya guru kami, semua orang yang ada hak kepada kami, seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat
Yaa Rahmaa-nu Yaa Rahii-mu Yaa Hayyu Yaa Qayyuu-mu Yaa Dzal Jalaa-li Wal Ik-raam. Yaa Wahhaa-bu Yaa Kariim. Yaa Jawwaa-du Yaa Hannaa-nu Yaa Mannaa-nu Yaa Bur-haa-nu Yaa Sul-thaan.
Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Yang Maha Penyayang, Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Kokoh, Wahai Yang Maha Memiliki Ke-Agungan dan Kemuliaan, Wahai Yang Maha Pemberi, Wahai Yang Maha Pemurah, Wahai Yang Maha Dermawan, Wahai Yang Maha Mengasihi, Wahai Yang Maha Banyak Memberikan Karunia, Wahai Yang Maha Raja,
Yaa Fardu Yaa Sanadu Yaa Wit-ru Yaa Sattaa-ral ‘Uyuub. Yaa Qadii-mal Ihsaan. Yaa Dzal ‘Ar-syl Majiid. Yaa Fa’-‘aa-lu Limaa Yuriid. Yaa Dzal Fadl-lil ‘A-dhiim. Yaa Jalaa-lu Yaa Jamaa-lu Yaa Kamaal. Yaa Badii’as Samaa-waa-ti Wal Ar-dl.
Wahai Yang Maha Tunggal, Wahai Tempat Bersandar, Wahai Yang Ganjil, Wahai Yang Menutupi keburukan, Wahai Yang sejak dahulu memiliki kelebihan, Wahai Pemilik Arsy Yang Mulia, Wahai Yang Maha Melakukan Apa Yang Dia Kehendaki, Wahai Yang Memiliki Karunia Yang Agung, Wahai Yang Maha Nyata Kemuliaannya, Wahai Yang Maha Indah, Wahai Yang Maha Sempurna, Wahai Pencipta langit dan bumi,
Yaa Dzath Thauli Yaa Mujiib. Yaa Kaa-fii Yaa Mugh-nii. Yaa Fattaa-hu Yaa Razzaaq. Fii Luth-fiw Wa ‘Aa-fiyatiw Wa Salaa-mah.
Wahai Yang Mempunyai Kekuasaan yang Tidak Terbatas, Wahai Maha Penerima, Wahai Yang Maha Mencukupi, Wahai Maha Pemberi Kekayaan, Wahai Yang Maha Membuka, Wahai Yang Maha Memberi Rezeqi di dalam kelembutan, kesehatan dan keselamatan.
Wa Bi Tamaa-mi Kulli Suu-liw Wa Ma”muu-liw Wa Ilaa Hadl-ratin Nabiyyil Ak-raam Sayyidinaa Muhammadin Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Al Faa-tihah .........
Dan dengan kesempurnaan pada setiap permintaan. Kepada kehadirat Nabi yang paling mulia, junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Al Fatihah.
KEMUDIAN MEMBACA :
Surat Al Ikhlash 7x, surat Al Falaq 7x, surat An Naas 7x.
SETELAH ITU MEMBACA MANAQIB SYEIKH ABDUL QADIR AL JAILANI SEBAGAIMANA BERIKUT INI :
...................000000000...................










  

YAA RABBI SHALLI ‘ALAA MUHAMMADIN
ASY-RAFI BARIYYAH. YAA HUU YAA ALLAH
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa sayyidas saa-daa-ti ‘Abdal Qaa-diri. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk. Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai pemimpin para wali Syeikh Abdul Qadir. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa syai-kha Muh-yiddii-ni ‘Abdal Qaa-diri. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk. Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai Syeikh Muhyiddin Abdul Qadir. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa syai-kha maulaa-naa dzal karaa-mati. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk. Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai Syeikh baginda kami yang memiliki kemuliaan. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa Makh-duu-ma Muh-yiddii-ni. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai tuan “Muhyiddin” (Syeikh Abdul Qadir Al Jailani). Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa sul-thaa-nal auliyaa”il hadl-rati. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai rajanya para wali yang terhormat. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa darwii-syu Muh-yiddii-ni. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai orang yang ahli zuhud (ialah) Syeikh Abdul Qadir. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa khawaa-jata Muh-yiddii-ni. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai pemimpin wahai Syeikh Muhyiddin (Abdul Qadir Al Jailani). Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa syai-khats tsaqalaini a-ghits-nii. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai maha guru dari segala kebijaksanaan mohonkanlah aku pertolongan. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa ‘Ubaidallaha a-ghits-nii. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai hamba Allah yang banyak beribadah mohonkanlah aku pertolongan. Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa syai-kha qa-dlaa”i hawaa”iji. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai syeikh perantara terkabulnya segala hajat.  Yaa Huu Yaa Allah.
Yaa Rabbi shalli ‘alaa Muhammadin asy-rafil bariyyah. Yaa Huu Yaa Allah
Yaa syai-kha quth-bi imaa-mi zamaa-nihii. Yaa Huu Yaa Allah
Ya Tuhanku curahkan kesejahteraan kepada nabi Muhammad (dialah) sebaik-baik makhluk.  Yaa Huu Yaa Allah.
Wahai syeikh wali quthub diantara para imam pada zaman itu. Yaa Huu Yaa Allah.
Na-dharta bi’ainil fik-ri fii haa-ni. Yaa Huu Yaa Allah
Tajallaa lil quluu-bi fahinnatii. Yaa Huu Yaa Allah
Kau memandang dengan pandangan mata tafakkur di kedai minuman. Yaa Huu Yaa Allah.
Sehingga kegilaan hati akan nampak. Yaa Huu Yaa Allah.
Saqaa-nii bika”sim mim madaa-mati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa minas saa-qii min khimaa-rii wa sak-ratii. Yaa Huu Yaa Allah
Bagai menuangkan segelas arak memabukkan. Yaa Huu Yaa Allah.
Oleh seorang pelayan minuman, yang membuat pusing dan mabuk kepayang. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa yunaa-dii fii kulli waqtiw wa hii-nin. Yaa Huu Yaa Allah
Wa yar’aa-nii bi’ainil mawaddati. Yaa Huu Yaa Allah
Sehingga hatipun bermurah hati disetiap waktu dan keadaan. Yaa Huu Yaa Allah.
Dan menjagaku dengan pandangan mata kasih sayang. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa sirrullahi saa-ra bi khalqihii. Yaa Huu Yaa Allah
Wa in arad-ta mawaddatii. Yaa Huu Yaa Allah
Rahasia Allah tersirat pada semua makhluk-Nya. Yaa Huu Yaa Allah.
Apabila kau berkehendak pada kasih sayangku. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa in qulta kun fayakuu-nu. Yaa Huu Yaa Allah
Bi Amrillahi fahkum bi qud-ratii. Yaa Huu Yaa Allah
Engkau (Allah) cukup mengucapkan “Jadilah” maka terjadilah. Yaa Huu Yaa Allah.
Semua itu terjadi semata-mata karena kekuasaan dan urusan Allah. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa thaa-bat lil akwaa-nu jaa-lisun. Yaa Huu Yaa Allah
Fa-shirtu lahaa ahlam bitash-hii-hi niyyatii. Yaa Huu Yaa Allah
Menjadikan lunak di setiap keadaan, buatlah seorang yang bersimpuh. Yaa Huu Yaa Allah.
Dihadapannya membuatku dengan kebersihan niat dan jiwaku. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa min shahii-hi riwaa-yati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa binaa ta”wii lahuu kullu ummati. Yaa Huu Yaa Allah
Dan sebagian dari kebenaran fatwanya. Yaa Huu Yaa Allah.
Supaya kita selalu menyayangi umat. Yaa Huu Yaa Allah.
Syahaa-datul Jalaa-li bi nadh-rati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa syahaa-datu maa fauqas samaa-waa-ti. Yaa Huu Yaa Allah
Kesaksian Yang Maha Agung dengan pandangan rahmat-Nya. Yaa Huu Yaa Allah.
Serta kesaksian semua (apa) yang di langit. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa qaa-ba qausainil ahibbati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa arqaa saa”irin fil mahabbati. Yaa Huu Yaa Allah
Maka dekatlah jarak dua busur panah kecintaan. Yaa Huu Yaa Allah.
Menjadi naik semua sisi-sisi kecintaannya. Yaa Huu Yaa Allah.
Wajuu-dikas sirri fil haqii-qati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa martabatin ‘alaa kulli haqqir rutbati. Yaa Huu Yaa Allah
Keagungan-Mu yang rahasia tenggelam di lautan hakikat-Mu. Yaa Huu Yaa Allah.
Ketinggian tingkatan-Mu diantara semua tingkatan. Yaa Huu Yaa Allah.
Wal wash-li fii haa-ni hadl-rati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa hanii”am bisy syiraa-bi wa ru”yati. Yaa Huu Yaa Allah
Bagai menyambung kehadiratmu di kedai minuman. Yaa Huu Yaa Allah.
Yang merasakan kelezatan dengan minuman dan impian akan perjumpaan dengan-Mu. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa aq-thaa-bil wujuu-di haqii-qati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa saa”iri aq-thaa-bi ‘izziw wa hurmati. Yaa Huu Yaa Allah
Dan porosnya segala yang ada di dunia ini dari perbendaraan hakikat-Nya. Yaa Huu Yaa Allah.
Serta poros dari keagungan dan kemuliaan. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa natawassalu fii kulliw wa syiddati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa a-ghits-nii fil asy-yaa”i bihimmati. Yaa Huu Yaa Allah
Aku berperantara kepada Syeikh Abdul Qadir Al Jailani semua permasalahan dan yang terberat sekalipun. Yaa Huu Yaa Allah.
Memohonkan pertolongan dalam semua urusan-urusanku termasuk keinginanku. Yaa Huu Yaa Allah.
Wa fii raa-hati ‘aurati. Yaa Huu Yaa Allah
Wa bihaa jam’an ‘alaa thuu-li lam-hati. Yaa Huu Yaa Allah
Juga mohon kebahagiaan dan pemeliharaan. Yaa Huu Yaa Allah.
Karena dengan itu semua akan puas lamanya mata memandang. Yaa Huu Yaa Allah.
Fabikauni ‘Abdil Qaa-diri walii. Yaa Huu Yaa Allah
Wa dawaa-mil ‘izzi wa rif’ati. Yaa Huu Yaa Allah
Dengan keberkahan dan kekeramatan Syeikh Abdul Qadir seorang wali. Yaa Huu Yaa Allah.
Semoga selalu tercurahkan keagungan dan keluhuran. Yaa Huu Yaa Allah.
Sub-haa-na Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘ammaa ya-shifuu-na wa salaa-mun ‘alal mursalii-na wal Hamdulillahi Rabbil ‘aa-laimiin. Aa-miin.
Maha Suci Tuhanmu (Allah) Tuhan segala keperkasaan, Tuhan yang bersih dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Semoga Allah mengabulkan.
...................000000000...................
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
 lagi Maha Penyayang.
SALAA-MULLAHI YAA SAA-DAAT
Salaa-mullahi Yaa Saa-dat
Ma’ar ridl-waa-ni Yagh-syaa-kum
Keselamatan dan keridhaan Allah semoga tercurah kepadamu Wahai wali-wali Allah.
‘Ibaa-dallahi Ji”naa-kum
Qa-shadnaa-kum Thalabnaa-kum
Wahai Wali-wali Allah kami datang dengan maksud mencari keberkahan darimu
Tu’ii-nuu-naa Tu-ghii-tsuu-naa
Bihimmatikum Wa jadwaa-kum
Tolong dan mohonkan kami dengan keinginan & kemurahanmu
Fa-ah-buu-naa Wa A’thuu-naa
‘A-thaa-yaa-kum  Hadaa-yaa-kum
Maka cintai dan berikan kami dengan pemberian & hidayahmu
Falaa-khayyabtumuu Dhannii
Fa-haa-syaa-kum Wa Haa-syaa-kum
Janganlah kau robek keyakinan kami, maka terkepung semuanya kepadamu
Sa’idnaa Idz Aa-tainaa-kum
Wa Fuznaa-hiina Zurnaa-kum
Betapa bahagianya kami ketika datang kepadamu, alangkah beruntung kami dapat mengunjungimu
Faquu-muu Wasy-fa’uu fii-naa
Ilar Rahmaa-ni Maulaa-kum
Maka bangkitlah (wahai Wali Allah) mintakan syafa’at untuk kami kepada Tuhanmu Yang Maha Pengasih
‘Asaa Nuh-dhaa ‘Asaa Nu’thaa
Mazaa-yaa mim Mazaa-yaa-kum
Semoga kami memperoleh dan mendapatkan keistimewaan dari keistimewaanmu
‘Asaa Nadh-rah ‘Asaa Rahmah
Tagh-syaa-naa Wa tagh-syaa-kum
Semoga pandangan kasih sayang & rahmat selalu tercurah pada kami & kalian
Salaa-mullahi Hayyaa-kum
Wa ‘Ainullahi Tar’aa-kum
Keselamatan dari Allah selalu menghidupimu & pandangan Allah mengawasimu
Wa Shallallahu Maulaa-naa
Wa Sallam Maa Aa-tainaa-kum
Semoga Allah mencurahkan kesejahteraan & keselamatan pada pemimpin kami atas kedatangan kami ini
‘Alal Mukh-taa-ri Syaa-fi’inaa
Wa Munqi-dzinaa Wa Iyyaa-kum
Kepada manusia terpilih pemberi syafaat kami & juru penyelamat kami, pula tercurahkan kepadamu
Sub-haa-na Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘ammaa ya-shifuu-na wa salaa-mun ‘alal mursalii-na wal Hamdulillahi Rabbil ‘aa-laimiin.
Maha Suci Tuhanmu (Allah) Tuhan segala keperkasaan, Tuhan yang bersih dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
...................000000000...................






Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
‘ALAL KAA-FII SHALAA-TULLAH
‘Alal kaa-fii shalaa-tullah
‘Alasy syaa-fii salaa-mullah
Semoga rahmat Allah atas nabi-Nya yang penurut. Semoga salam Allah atas nabi-Nya yang menyembuhkan penyakit.
Bi Muh-yiddii-ni khallish-naa
Minal balwaa”i Yaa Allah
Dengan berperantara kepada Syeikh Abdul Qadir selamatkan kami dari bala’.
‘Ibaa-dallah rijaa-lallah
A-ghii-tsuu-naa li aj-lillah
Wahai hamba-hamba Allah, wahai wali-wali Allah, tolonglah kami karena Allah.
Wa kuu-nuu ‘aunanaa lillah
‘Asaa nah-dhaa bi fadl-lillah
Bantulah kami karena Allah, semoga tercapai hajat kami, karena anugerah Allah.
Wa yaa aq-thaab wa yaa anjaab
Wa yaa saa-daat wa yaa ahbaab
Wahai wali-wali quthub, wahai wali-wali dermawan, wahai para pemimpin dan para habaib.
Wa antum yaa ulil al-baab
Ta’aa-lau wan-shuruu lillah
Wahai wali yang memiliki akal sempurna, engkaulah penolong, penyantun, datanglah kemari, tolonglah karena Allah.
Sa”alnaa-kum sa”alnaa-kum
Wa liz zulfaa rajaunaa-kum
Dengan perantaraan engkau kami memohon, dengan perantaraan engkau kami memohon dengan mengharapkan do’amu, kami dekat dengan Allah.
Wa fii amrin qa-shadnaa-kum
Fa-syudduu ‘azmakum lillah
Dengan bermaksud perantaraan engkau, untuk tercapainya urusan kami kokohkanlah tujuan kami karena Allah.
Fayaa Rabbii bi saa-daa-tii
Tahaqqaq lii i-syaa-ratii
Wahai Tuhan kami dengan perantaraan tuan-tuan yang menjadi wali, kuatkanlah petunjukmu kepada kami.
‘Asaa ta”tii bi syaa-ratii
Wa yash-fuu waqtunaa lillah
Semoga lekas datang kebahagiaan kami, semoga waktu kami bersih murni untuk ibadah karena Allah.
Bi kasy-fil hujbi ‘an ‘ainii
Wa raf’il baini mim baini
Dengan terbukanya tirani penutup mata kami, dan hilangnya penghalang antara kami dan Allah.
Wa thamsil kaifi wal aini
Bi nuu-ri waj-hi Yaa Allah
Dan terhapusnya keraguan, bagaimana Allah dan dimana Allah, dengan cahaya dzat Engkau Ya Allah.
Shalaa-tullahi maulaa-naa
‘Alaa mam bil hudaa jaa-naa
Wahai Tuhan kami, semoga kesejahteraan Allah dilimpahkan kepada orang yang datang dengan membawa petunjuk kepada kami.
Wa mam bil haqqi aulaa-naa
Syafii’il khalqi ‘indallah
Yaitu Nabi Muhammad yang membawa kebenaran pada kami, pemberi syafa’at semua makhluk disisi Allah.
Sub-haa-na Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘ammaa ya-shifuu-na wa salaa-mun ‘alal mursalii-na wal Hamdulillahi Rabbil ‘aa-laimiin. Aa-miin.
Maha Suci Tuhanmu (Allah) Tuhan segala keperkasaan, Tuhan yang bersih dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Semoga Allah mengabulkan.
...................000000000...................
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
YAA AR-HAMAR RAA-HIMIIN
Yaa Ar-hamar Raa-himiin / Yaa Ar-hamar Raa-himiin
Yaa Ar-hamar Raa-himiin / Farrij ‘alal muslimiin
Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih.
Wahai Dzat Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih, Engkau longgarkan hati kaum muslimin.
Yaa Rabbanaa Yaa Kariim / Yaa Rabbanaa Yaa Rahiim
Antal Jawaa-dul Haliim / Wa Anta ni’mal mu’iin
Wahai Tuhan kami Yang Maha Pemurah, Wahai Tuhan kami Yang Maha Pengasih.
Engkaulah Maha Dermawan lagi Maha Penyantun, dan Engkau pula sebaik-baik Maha Penolong.
Wa laisa narjuu siwaak / Fad-rik ilaa-hi daraak
Qab-lal fanaa wal halaak / Ya’ummu dun-yaa wa diin
Ya Tuhanku tiada yang kuharapkan dari-Mu melainkan tercapainya cita-cita keinginan kami.
Sebelum agama dan dunia ini mengalami kehancuran dan kebinasaan.
Wa maa lanaa Rabbunaa / Siwaa-ka Yaa Hasbanaa
Yaa Dzal ‘Ulaa wal Ghinaa / Wa Yaa Qawii Yaa Matiin
Tiada bagi kami Tuhan yang mencukupi hanyalah Engkau. Wahai Tuhan kami yang memiliki keluhuran dan kekayaan. Wahai Dzat Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh.
Nas”aluk wa ilaa yuqiim / Wal ‘ad-la kai nastaqiim
‘Alaa hudaa-kal qawiim / Wa laa nu-thii’ul la’iin
Aku memohon kepada-Mu akan tegaknya keadilan supaya kehidupan kami di jalan yang benar.
Atas petunjuk-Mu yang lurus dan bukan menjadi orang-orang terlaknat.
Yaa Rabbanaa Yaa Mujiib / Antas Samii’ul Qariib
Dlaa-qal wasii’ur rahiib / Fan-dhur ilal mu”miniin
Wahai Tuhan kami yang selalu mengabulkan. Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat.
Di kala sempitnya keluasan dan kelonggaran menimpa, maka pandanglah orang-orang mukmin dengan Rahmat-Mu.
Nadh-rah tuzii-lul ‘annaa / ‘Annaa wa tud-nil munaa
Minnaa wa kullal hanaa / Nu’thaa-hu fii kulli hiin
Suatu pandangan yang menghilangkan rasa keluhan kami mendekatkan keinginan-keinginan kami.
Menghilangkan pula dari kami keturunan yang rendah yang selalu kuminta di setiap kesempatan.
As”aluk bijaa-hil juduud / Wa ilaa yuqii-mul huduud
Fii-naa wa yakfil hasuud / Wa yadfa’udh dhaa-limiin
Kami bermohon kepada-Mu dengan keberkahan dan keagungan para nenek moyang kami, agar tegaknya peraturan-peraturan dalam kehidupan kami.
Tercegah dari sifat iri, tertolak dari golongan orang-orang dhalim.
Yuzii-lu lil munkaraat / Yuqii-mu lish shalawaat
Ya”muru bish shaa-lihaat / Muhibbul lish shaa-lihiin
Disirnakan semua kemunkaran, ditegakkan kewajiban shalat.
Dianjurkan segala amal shaleh, cinta kepada orang-orang shaleh.
Yuzii-hu kullal haraam / Yaq-haru kullath tha-ghaam
Ya’dilu bainal anaam / Wa yu”minul khaa”ifiin
Setiap yang haram disingkirkan, setiap yang menjijikkan ditundukkan.
Berkeadilan sesama makhluk, diamankan orang-orang ketakutan.
Rabbis qinaa ghai-tsa ‘aam / Naa-fi’ mubaa-rak dawaam
Yaduu-mu fii kulli ‘aam / ‘Alaa mamarris siniin
Ya Tuhanku turunkanlah pertolongan-Mu agar di tahun ini hidup kami mendapatkan kemanfaatan dan keberkahan yang abadi.
Abadilah di setiap masa yang selalu silih berganti.
Rabbih-yinaa syaa-kiriin / Wa tawaffanaa muslimiin
Nub’a-tsu minal aa-miniin / Fii zumratis saa-biqiin
Ya Tuhan kami, jadikan hidup kami pandai bersyukur, akhirilah kami dalam keadaan Islam.
Bangkitlah kami di hari kiamat nanti dalam keadaan aman sentosa bersama golongan orang terdahulu yang shaleh-shaleh.
Bijaa-hi Thaa-har rasuul / Jud Rabbanaa bil qabuul
Wa hab-lanaa kulla suul / Rabbis tajib lii aa-miin
Dengan keagungan seorang utusan yaitu Thaha anugerahkan kami dengan terkabulnya do’a kami.
Ya Tuhan kami, terimalah setiap tawassul kami, kabulkan do’a kami
‘A-thaa-ka Rabbii jaziil / Wa kullu fi’lik jamiil
Wa fiik amalnaa thawiil / Fajud ‘alath thaa-mi’iin
Ya Tuhan pemberian-Mu pada kami berlimpah-limpah dan keindahan di setiap ciptaan-Mu.
Angan-angan kami yang panjang, maka jadikanlah kami semata-mata mencari ridha-Mu.
Yaa Rabbi dlaa-qal hinaaq / Min fi’li maa laa yu-thaaq
Famnun bifakkil ghalaak / Limam bi-dzambih rahiin
Ya Tuhan kami, kehidupan dengan penindasan dari semua pekerjaan yang tak tertahankan ini.
Anugerahkan kami dengan lepasnya semua kebangkrutan oleh orang yang menggadaikan dosa-dosanya.
Wagh-fir likullidz dzunuub / Wastur likullil ‘uyuub
Wak-syif likullil kuruub / Wak-fii a-dzal mu”miniin
Ampuni segala dosa, tutupi segala aib. Hapuskanlah segala kesedihan, hindarkan penderitaan orang mukmin.
Wakh-tim bi ihsan khitaam / I-dzaa danal in-shiraam
Wa haa-na hii-nal himaam / Wa zaa-da rasy-hul jabiin
Akhirilah hidup kami dengan akhir yang baik, di kala nafas terakhir.
Di saat ajal merenggut nyawa dan di saat dahi bercucuran air keringat.
Tsummash shalaah was salaam / ‘Alaa syafii’il aa-naam
Wal aa-li ni’mal kiraam / Wash shah-bi wat tabi’iin
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi pemberi syafa’at semesta alam.
Tercurahkan pula kepada keluarganya sebaik-baik dermawan, para sahabat dan pengikut-pengikutnya.
Sub-haa-na Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘ammaa ya-shifuu-na wa salaa-mun ‘alal mursalii-na wal Hamdulillahi Rabbil ‘aa-laimiin.
Maha Suci Tuhanmu (Allah) Tuhan segala keperkasaan, Tuhan yang bersih dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
...................000000000...................







 Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
YAA SYAIKH ‘ABDIL QAA-DIR
Yaa Syaikh ‘Abdil Qaa-dir sul-thaan waliyyillah / Quth-bu haa-dzaz zamaan imaa-mil auliyaa”
Wahai Syeikh Abdul Qadir raja dan imam para wali, quthub jagad masa kini.
Yaa La-thii-fu lam tazal Yaa Rabbanaa / Ul-thuf binaa fii-maa nazal Yaa Rabbanaa
Ya Tuhan kami yang selalu sayang kepada hambanya, lindungilah kami dari apa yang telah Engkau turunkan.
Innaka la-thii-ful lam tazal Yaa Allah / Ul-thuf binaa wal muslimiin
Sesungguhnya Engkau selalu ramah Ya Allah, sayangilah kami dan semua kaum muslimin.
Mim ma-dliyyiw wa ghaa-biri / Kasy Syai-khi ‘Abdil Qaa-diri
Dari golongan salaf dan terdahulu seperti Syeikh Abdul Qadir.
Man khush-sha bis saraa”iri / Bainal ‘ibaa-dish shaa-lihiin
Dan golongan khowas dengan ilmu-ilmu rahasia diantara hambanya yang shaleh.
Tsummal faqii-hi jaddinaa / Wal ‘Aidaruu-si fakh-rinaa
Kemudian kakek kita Al Faqihil Muqaddam Muhammad Bin Ali Ba’alawi.
Dua golongan Al Idrus sebagai wali kebanggaan kita.
Wa saa”iri aslaa-finaa / Nas-lil Hasani wal Husain
Serta seluruh ulama salaf yang ada darah nasab (keturunan) dengan Sayyidina Hasan dan Husein.
Wal kullu min ahlir ra-syaa-di / War raa-syi-dii-na lil ‘ibaa-di
Kesemuanya itu ialah para tuntunan yang membimbing para hamba Allah.
Fii kulli qar-yatiw wa bilaa-di / Musaa-firii-na wa qaa-ni-thiin
Di pelosok desa dan kota baik yang muqim atau musafir.
‘Ajjil bi raf’i maa tarak / Innaka la-thii-ful lam tazal
Ya Allah segeralah Engkau terima apa yang mereka tinggalkan. Sesungguhnya Engkau selalu Maha Lembut.
Min ghairika ‘Azza Wa Jall / Wal laa-thifu lil ‘aa-lamiin
Supaya kami tidak menyembah selain Engkau karena Engkaulah Tuhan Maha Agung lagi Maha Mulia. Yang Maha Ramah untuk semua makhluk di alam semesta ini.
...................000000000...................
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
SYAI LILLAH
Yaa Maulaa-naa (Syai Lillah 3x) / Yaa Syaikh ‘Abdil Qaa-dir (Syai Lillah 3x)
Wahai pemimpin kami Syailillah. Wahai Syeikh Abdul Qadir Syailillah.
Fil Madii-nah qad ha-dlarnaa / Majma’il qaumil kiraam
Kami telah tiba di kota Madinah. Diperkumpulan kaum terhormat.
Naa-la kullum maa tamannaa / Inda haa-tii-kal khiyaam
Sehingga keinginan telah tercapai semua. Pada saat diperkemahan itu.
Wa balagh-naa maa thalabnaa / Mim ma-thaa-lib wa maraam
Sampailah apa yang selama ini kami cari. Diantara semua cita-cita dan tujuan kami.
Wajtama’naa wat ta-shalnaa / ‘Inda sayyidnal imaam
Kami berkumpul untuk menyumbang diri. Kehadirat junjungan kami seorang imam.
Rabbi faj’al mujtama’naa / Ghaa-yatuhuu husnul khitaam
Ya Tuhan kami, jadikanlah pertemuan ini di penghujung akhir hayat nanti dalam keadaan akhir yang baik.
Wa’thinaa maa qad sa”alnaa / Min ‘a-thaa-yakal jisaam
Berilah apa yang kami minta diantara semua pemberianmu yang besar itu.
Wak-rimil arwaa-ha minnaa / Biliqaa khairil anaam
Muliakanlah jiwa kami dengan bertemu nabi sebaik-baik manusia.
Wab-li-ghil mukh-taa-ru ‘annaa / Min shalaa-tiw wa salaam
Sampaikanlah shalawat dan salam kami kepada manusia yang terpilih (Nabi Muhammad SAW).
...................000000000...................
DO’A MANAQIB SYEIKH ABDUL QADIR
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Al Hamdulillahi Rabbil ‘aa-lamiin. Hamdan naa’imiin. Wa hamdasy syaa-kiriin.
Segala puji bagi Allah seru sekalian alam, dengan pujian orang-orang yang memperoleh nikmat dan pujian orang-orang yang bersyukur,
Allahumma hamday yuwaa-fii ni’amahuu wa yukaa-fi”u mazii-dah.
Ya Allah, dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-Nya dan memadai dengan penambahan nikmat-Nya.
Yaa Rabbanaa lakal hamdu kamaa yamba-ghii li Jalaa-li waj-hikal karii-mi wa ‘a-dhii-mi sul-thaa-nik.
Wahai Tuhan kami kepunyaan-Mu segala puji sebagaimana pujian itu patut terhadap kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu.
Allahumma wa kamaa ah-dlartanaa khatma kitaa-bikal la-dzii a’rabta fii-hi ‘an syaraa”i’i ahkaa-mika wa wah-yik.
Ya Allah sebagaimana Engkau datangkan kepada kami kitab-Mu pamungkas (Al Qur’an) yang menjelaskan tatanan hukum agama-Mu, Engkau turunkan pamungkas wahyu-Mu,
Al la-dzii anzaltahuu mufarriqam baina halaa-lika wa haraa-mik.
Yang membedakan antara yang halal dan yang haram.
Wa nadabtanaa lit ta’arru-dli li tsawaa-bihil jasiim. Wa hadz-dzartanaa  ‘alaa lisaa-ni wa ‘ii-dihii syadii-da ‘a-dzaa-bikal aliim.
lalu Engkau bangkitkan untuk menghadang ganjaran membacanya yang agung, Engkau takut-takuti siksaan yang amat dahsyat (dengan ancaman firman-Mu)
faj’alnaa mimman talii-nu quluu-buhum ‘inda samaa’i aa-yaa-tih. Wa yadii-nu laka bimti-tsaa-li awaa-mirihii wa man-hiyyaa-tih.
Jadikanlah kami dari golongan orang yang hatinya lunak mendengarkan ayat-ayat-Mu, tunduk kepada-Mu, dengan setia menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
Faj’al-hu nuu-ran nas’aa bihii ilaa ‘ara-shaa-til qiyaa-mah. Wa sullaman na’ruju bihii ilaa daa-ril muqaa-mah.
Jadikanlah kitab-Mu Al Qur’an ini, sebagai cahaya dalam perjalanan menuju pelataran kiamat, dan menjadikan tangga untuk naik menuju ke desa abadi.
Allahumma wa sahhil bihii ‘alainaa karbas siyaaq. I-dzaa danaa minnar ra-hii-lu wa bala-ghatir ruu-hu minnat taraa-qii. Wa tajallaa malakul mauti li qab-dlihaa min hujubil ghuyuub.
Ya Allah dengan kitab-Mu Al Qur’an, mudahkanlah kami dalam kengerian apabila waktu sudah dekat berangkat menuju alam baqa’, ruh sudah sampai di urat nadi, malaikat maut sudah nampak dari tutup kesamaran.
Wa qii-la mar raaq. Wat taffatis saa-qu bis saaq. Ilaa Rabbika yauma”idinil masaaq. Wa shaa-ratil a’maa-lu qalaa”ida fil a’naaq.
Lalu dikatakan : siapa lagi yang dapat menyembuhkan penyakit ? digiring kemudian seluruh catatan amalnya dikalungkan di atas leher.
Allahumma laa ta-ghulla yadan ilal a’naaq. Akuffan ta-dlarra’at ilaika wa’tamadat fii shalawaa-tihaa ‘alaik. Raa-ki’ataw wa saa-jidatam baina yadaik.
Ya Allah jangan Engkau ikat tangan ini ke leher, dengan telapak tangan ini ditengadahkan penuh sopan kehadapan-Mu, dengan telapak tangan ini menjadikan pegangan mengerjakan shalat untuk-Mu, lagi untuk ruku’ dan sujud kehadirat-Mu.
Wa laa tuqayyid bi ankaa-lil jahiim. Aqdaa-man sa’at ilaik. Wa barazat mim manaa-zilihaa ilal masaa-jadi thaa-mi’atan fii-maa ladaik.
Jangan Engkau ikat kaki ini dengan rantai-rantai jahannam, dengan kaki ini berangkat dari rumah-rumah menuju masjid-masjid, mengharap pa dari alasisi-Mu.
Wa laa tu-shimma asmaa’an taladz-dza-dzat bihalaa-wati tilaa-wati kitaa-bikal kariim.
Jangan Engkau jadikan tuli pendengaran ini, dengan pendengaran ini mendapatkan nikmat atas manisnya bacaan kitab-Mu Al Qur’an Karim.
Wa laa tath-mis bil ‘amaa a’yunam bakat fii dhulamil layaa-lii khaufam min ‘a-dzaa-bikal aliim.
Janganlah Engkau hapuskan mata ini dengan kebutaan, dengan mata ini menangis dalam kegelapan malam, karena takut atas adzab-Mu yang pedih.
Allahumma shalli wa sallim ‘alaa sayyidinaa Muhammadin syafii’i arbaa-bidz dzunuub. Wa ‘alaa aa-lihii wa ash-haa-bihii a-thibbaa”il quluub. Wa ‘alaa ummatihil la-dzii-na ka-syafta lahum kulla mahjuub. Wa analtahum kulla mahbuub. Maa habbatin nafahaa-tus sahariyyah. Wa ta’ath-tharatil majaa-lisu bi ‘urfi akh-baa-ril akh-yaa-riz zakiyyatil miskiyyah. Aa-miin.
Ya Allah semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW pemberi syafa’at orang-orang berdosa dan keluarganya, sahabat-sahabatnya yang menjadi dokter rohani dan atas umatnya yang sudah Engkau buka hatinya, sudah Engkau perkenankan apa yang mereka sukai, selagi masih berhembus angin kasturi di waktu sahur, dan selagi masih menyengat bau harum dari mejelis yang dibacakan manaqib riwayat orang-orang terpilih, hatinya yang suci bagaikan minyak misik. Kabulkan do’a kami.
Sub-haa-na Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘ammaa ya-shifuu-na wa salaa-mun ‘alal mursalii-na wal Hamdulillahi Rabbil ‘aa-laimiin. Aa-miin.
Maha Suci Tuhanmu (Allah) Tuhan segala keperkasaan, Tuhan yang bersih dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
...................000000000...................
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Laa ilaa-ha illallahu wahdahuu laa syarii-ka lah. Ilaa-haw waa-hidan shamadal lam yalid wa lam yuu-lad wa lam yakul lahuu kufuwan ahad (11x)
Tiada Tuhan selain Alalh Yang Maha Esa. Tiada sekutu bagi-Nya dengan menyatakan keEsaan Tuhan (Dia) tempat meminta, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada satupun yang menyamai-Nya.
...................000000000...................
 Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Rabbi Innii Magh-luu-bun Fanta-shir. Wajbur Qalbil Munkasir. Wajma’ Syamlil Mudats-tsir. Innaka Antar Rahmaa-nul Muqtadir. Wakfinii Yaa Kaa-fii Faanal ‘Abdul Muftaqir. Wa Kafaa Billahi Waliyyaa. Wa Kafaa Billahi Na-shii-raa. Innasy Syirka La-dhulmun ‘A-dhiim. Wa Mallahu Yarii-du Dhulmal Lil Ibaad. Faqu-thi’a Daa-biral Qaumil La-dzii-na Dhalamuu Wal Hamdulillahi Rabbil ‘Aa-lamiin.
Wahai Allah, aku ini orang yang kalah maka tolonglah dan balutlah hatiku yang terpisah-pisah. Kembalikan tabi’atku yang hilang. Sesungguhnya Engkau Maha Pemurah lagi Maha Kuasa. Cukupilah aku Wahai yang memberi kecukupan karena aku ini seorang hamba yang faqir. Cukuplah Allah sebagai waliku dan cukuplah Allah sebagai penolong. Sesungguhnya menyekutukan Allah merupakan kesesatan yang amat besar. Tiadalah Tuhan menginginkan kesesatan pada hambanya maka hentikanlah membelakangi kaum yang sesat. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.
...................000000000...................


Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Allahumma Yaa Rabba Sayyidinaa Muhammadin wa aa-li Sayyidinaa Muhammad. As”aluka bihaqqi Sayyidinaa Muhammadin wa aa-li Sayyidinaa Muhammadin an tu-shalliya ‘alaa Sayyidinaa Muhammad. Shalaa-tan tadz-habu bihaa ahzaa-nii. Wa tu-tsabbitu bihaa janaa-nii. Wa tu-thahhiru bihaa lisaa-nii. Wa tuqawwii bihaa arkaa-nii. Wa ataqallabu bi sirrihaa fii-maa ‘anaa-nii. Fii sirrii wa i’laa-nii. Wa ta’uu-du barakaa-tuhaa ‘alayya wa ‘alaa ahlii wa aulaa-dii wa ikh-waa-nii. Wa qaraa-baa-tii wa ash-haa-bii wa jii-raa-nii. Innaka ‘alaa kulli syai”in qadiir. Birahmatika Yaa Ar-hamar Raa-himiin.
Wahai Allah, Wahai Tuhan junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad. Saya memohon kepada-Mu demi kebenaran junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad. Semoga dengan shalawat ini dapat menghilangkan segala duka citaku, menetapkan hatiku, membersihkan lisanku, mengokohkan sandaranku, mengubah secara rahasia tanpa bersusah payah, dalam rahasia maupun terang-terangan serta memberikan barakah kepadaku, keluargaku, anak-anakku, saudara-saudaraku, familiku, serta para sahabat dan tetanggaku. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dengan rahmat-Mu Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang pengasih.

...................000000000...................


 Allaahumma Innii As”aluka Binuuri Waj-hillaahil ‘Adhiimil La-dzii Mala”a Arkaana ‘Ar-syillaahil ‘A-dhiim. Wa Qaamat Bihii ‘Awaalimullaahil ‘A-dhiim. An Tu-shalliya ‘Alaa Sayyidinaa Wa Maulaanaa Muhammadin Dzil Qad-ril ‘A-dhiim Wa ‘Alaa Aa-li Nabiyyillaahil ‘A-dhiim.
Ya Allah sungguh aku mohon kepadaMu dengan cahaya wajah Allah yang agung, yang memenuhi pilar-pilar Arsy Allah yang agung dan kokoh karenanya, Ilmu-ilmu Allah yang agung, kiranya Engkau berikan rahmat ta’dhim kepada junjungan kami dan pimpinan kami Nabi Muhammad yang memiliki keagungan. Tercurahkan pula kepada keluarga Nabi Allah yang agung
Biqad-ri ‘A-dhamati Dzaatillaahil ‘A-dhiim. Fii Kulli Lam-hatin Wa Nafasin ‘Adadamaa Fii ‘Ilmillaahil ‘A-dhiim. Shalaatan Daa”imatam Bidawaamillaahil ‘A-dhiim. Ta’dhiimal Lihaqqika Yaa Sayyidanaa Yaa Maulaanaa Muhammad. Yaa Ahmad. Yaa Abal Qaasim.
Dengan kekuasaan, keagungan Dzat Allah Yang Maha Agung dalam setiap pandangan mata dan nafas sejumlah bilangan Ilmu-Ilmu Allah Yang Agung. Dengan shalawat yang kekal dengan keabadian Allah, karena keagungan hakmu wahai junjungan kami dan pemimpin kami Nabi Muhammad, wahai Nabi Ahmad, wahai Abul Qasim
Yaa Dzal Khuluqil ‘A-dhiim. Wa Sallim ‘Alaihi Wa ‘Alaa Aa-lihii Mits-la Dzaalik. Wajma’ Bainii Wa Bainaahuu Kamaa Jama’ta Bainar Ruuhi Wan Nafsi Dhaahiran Wa Baa-thinaa. Yaqa-dhatan Wa Manaaman Waj’al-hu Yaa Rabbi Ruuhan Li-dzaatii Min Jamii’il Wujuuhi Fiddun-yaa Qab-lal Aa-khirati Yaa ‘A-dhiim Yaa ‘A-dhiim.
Wahai yang memiliki akhlaq yang agung, Ya Allah Engkau berilah keselamatan kepadanya dan kepada keluarganya sebagaimana itu, kumpulkan antara aku dan dia sebagaimana Engkau kumpulkan ruh dan jiwa, dhahir dan bathin dalam keadaan sadar maupun tidur. Ya Tuhan jadikanlah dia ruh buat dzatku dari semua tujuan-tujuanku didunia sebelum hari akhir, Wahai Yang Maha Agung, Wahai Yang Maha Agung.
...................000000000...................



 DO’A RIJAA-LUL GHAIB
Bismillahir Rahmaanir Rahiim.
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang
Allahumma Innaa Nas”aluka Bi Anfaa-si Haa-dzal ‘Aa-rifil Akbari Was Sirril Ath-haril Waa-ri-tsil Muhammadiyyi.
Ya Allah, kami memohon kepada Engkau dengan perantaraan nafas-nafas orang arif dan yang agung ini, yang mengetahui rahasia-rahasia suci, pewaris Nabi Muhammad SAW
Shaa-hibil Id-laa-li ‘Alal Bisaa-thil ‘Indiyyi. Wa Bis Saa-likii-na ‘Alaa Min-haa-jihil Anwaa-ri Wal Mugh-tarifii-na Mim Man-hali Ma’aa-rifihil A’dzabil Az-khari An Tumiddanaa Bi-thii-bi Anfaa-sihim.
Yang mempunyai kedudukan tinggi yang ada diatas hamparan dekat disisi Allah, dengan perantaraan orang-orang yang mengikuti jejak yang lebih terang, dan dengan perantaraan orang yang menciduk air minum ma’rifat yang lebih manis dan lebih agung airnya untuk memberikan pertolongan Engkau kepada kami dengan perantaraan keharuman nafas-nafas orang-orang yang mengikuti jejak beliau-beliau.
Wa Tudniya Lanaa Min Tsimaa-ri Ghiraa-sihim. Yaa Ayyatuhal Arwaa-hul Muqaddasah. Yaa Khatmu Yaa Quth-bu Yaa Imaa-maa-ni Yaa Autaad, Yaa Abdaal, Yaa Ruqabaa”, Yaa Nujabaa”, Yaa Nuqabaa”, Yaa Ahlal Ghairah, Yaa Ahlal Akh-laaq, Yaa Ahlas Salaa-mah, Yaa Ahlal ‘Ilmi.
Dan dekatkanlah kami kebuah-buahnya orang yang mengikuti jejak beliau-beliau, wahai arwah-arwah yang disucikan, wahai wali-wali pamungkas, wahai wali quthub, wahai wali yang menjadi 2 Imam, wahai wali paku jagad, wahai wali abdal, wahai wali yang mewaspadai firman-firman Allah, wahai wali yang dermawan, wahai wali yang mengetahui batinnya manusia, wahai wali pembela agama Allah, wahai wali yang berbudi agung, wahai wali penyelamat, wahai wali yang berilmu.
Yaa Ahlal Bas-thi Yaa Ahlal Janaa-ni Wal ‘Ath-fi Yaa Ahladl Dlii-faan. Yaa Ayyuhasy Syakh-shul Jaa-mi’, Yaa Ahlal Anfaas, Yaa Ahlal Ghaibi Minkum Wasy Syahaa-dah, Yaa Ahlal Quwwati Wal ‘Azmi Yaa Ahlal Haibati Wal Jalaal, Yaa Ahlal Fat-hi Yaa Ahlal Ma’aa-rijil ‘Ulaa.
Wahai wali yang lapang dadanya, wahai wali ahli menjaga jiwanya dan pengasih, wahai wali yang ahli menghormati tamu, wahai wali yang ahli mengumpulkan Ilmu syari’at, thariqat, hakikat dan ma’rifat, wahai wali yang ahli menjaga nafasnya dengan dzikir, wahai wali yang tidak kelihatan diantara kami dan yang kelihatan, wahai wali yang ahli meningkatkan keta’atan kepada Allah, wahai wali yang berwibawa dan memiliki keagungan, wahai wali yang terluka hatinya, wahai wali yang terus naik derajat luhurnya.
Yaa Ahlan Nafsi Yaa Ahlal Imdaad, Yaa Ahla Shal-shalatil Jaras, Yaa Quth-bal Qaa-hir, Yaa Quth-bar Raqaa”iq, Yaa Quth-ba Saqii-thir Raf-rafibni Saa-qi-thil ‘Ar-syi Yaa Ahlal Ghinaa Billah. Yaa Quth-bal Khasy-yah Yaa Ahla ‘Ainit Tah-kii-mi Waz Zawaa”id. Yaa Ahlal Budalaa”.
Wahai wali yang ahli memerangi nafsunya, wahai wali yang penolong, wahai wali yang ahli menerima ilham, yang suaranya bagaikan suara bel, wahai wali yang jadi paku jagad yang mengalahkan, wahai wali quthub yang hatinya lunak, wahai wali quthub yang menerima firman dari raf-raf, putera wali yang menerima firman dari Arsy,  wahai wali yang merasa cukup atas pemberian Allah, wahai wali quthub yang penakut kepada Allah, wahai wali yang kuat keyakinannya dengan Ilmu Hikmah dan Ma’rifatnya, wahai para wali yang menjadi penggantinya Rasul,
Yaa Ahlal Jihaa-tis Sitti, Yaa Mulaa-matiyyah, Yaa Fuqaraa”u Yaa Suu-fiyyah, Yaa ‘Ubbaad, Yaa Zuhhaad, Yaa Rijaa-lal Maa”, Yaa Af-raa-du Yaa Umanaa”, Yaa Qurraa”, Yaa Ahbaab Yaa Ajillaa”, Yaa Muhaddi-tsuun, Yaa Sumaraa” Yaa Wara-tsatadh Dhaa-limi Linafsihii Minkum, Wal Muqta-shidi Was Saa-biqi Bil Khairaat.
Wahai wali yang menetap pada 6 arah, wahai wali yang tidak menampakkan kebagusannya dan tidak memendam kejelekannya, wahai para wali yang mengharapkan rahmat Allah, wahai para wali yang bersih jiwanya, wahai para wali yang ahli ibadah, wahai para wali yang menjauhi dunia, wahai para wali yang berjalan diatas air, wahai para wali yang menyendiri, wahai para wali kepercayaan Allah, wahai para wali yang selalu membaca Al Qur’an, wahai para wali yang menjadi kekasih Allah, wahai para wali yang tinggi pangkatnya, wahai para wali yang ahli hadits, wahai para wali yang ahli jaga malam munajat kepada Allah, wahai para wali yang mewarisi para wali yang dirinya merasa dhalim terhadap dirinya, serta menuju dan berlomba kebaikan.
Ayyuhal Arwaa-huth Thaa-hiratu Mir Rijaa-lil Ghaibi Wasy Syahaa-dah. Kuu-nuu ‘Aunaa Lanaa Fii Najaa-hith Thalabaat. Wa Taisii-ril Maraa-daat. Wa In-haa-dlil ‘Azamaat. Wa Ta”mii-nir Rau’aat. Wa Sit-ril ‘Auraat. Wa Qadlaa”id Duyuun. Wa Tahqii-qidh Dhunuun.
Wahai ruh-ruh yang suci dan golongan wali yang melihat rahasia dan melihat yang nyata. Semoga engkau semua (para wali) berkenan membantu kami untuk mendapatkan apa yang kami minta, memudahkan apa yang kami maksud, menyemangatkan tujuan kami, menyelamatkan yang menakutkan kami, menutup cacat kami, membayar hutang-hutang kami, yang menguatkan prasangka baik kami.
Wa Izaa-latil Hujubil Ghayaa-hib. Wa Husnil Khawaa-timi Wal ‘Awaa-qibi Wa Kasy-fil Kuruub. Wa Ghuf-raanidz Dzunuub. Wa Tush-lihu Bihal Quluub. Wa Tan-thaliqu Bihal ‘U-shuub. Wa Talii-nu Bihas Su’uub. Wa Yusahhilu Kullal Math-luub. Bijaa-hil Habii-bil Mahbuub.
Dan yang menghapus tirai penutup kegelapan, baik penutup dan pungkasan, menghilangkan berbagai kepedihan dan pengampunan dosa-dosa kami. Ya Allah, semoga Engkau berkenan memperbaiki hati, menghilangkan segala penyakit dan menghapuskan segala kesusahan dan memudahkan segala urusan dengan aku menghadapkan kepada kekasih yang dikasihi Allah.
Wa Ilaa Hadl-ratin Nabiyyi Muhammadin Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallaam. AL FAA-TIHAH.
Dan kepada kehadirat Nabi Muhammad SAW. AL FATIHAH.
...................000000000...................
 SHALAWAT-SHALAWAT
SHALAWAT JADAB
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Allahumma Shalli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalaa-tam Bi’izzatil Wahhaab. Bikalimaa-tillahi Musabbibil Asbaab. Fii Daa-ril Kitaab. Bi Syajaratil Ahbaab. Wal Qamaridz Dzaab. Wadz Dzaa-til Ab. Wa Ahlil Jadab. Wa Marrid Dawwaa-bil Awwaab. Wa Miftaa-hi Baa-bil Hijaab. Fil Quluu-bil Janaab. Bisalaa-min Aa-minii-nash Shawwaab. Wa Shallallahu ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Alaa Aa-lihii Wa Shahbihii Wa Sallam.
Wahai Allah limpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami  Nabi Muhammad SAW. Semoga dengan shalawat ini Allah berkenan memberikan kemuliaan. Tanda-tanda kekuasaan Allah menyebabkan beberapa sebab dan dijelaskan dalam Kitab yang dijadikan sebagai pedoman. Pepohonanpun menyayangi beliau. Cahaya beliau bagaikan rembulan. Dzat yang dirahasiakan. Golongan ahli jadab. Pembawa perubahan dari masa suram  ke masa gemilang. Pembuka pintu bagi hati yang gelisah dengan kebenaran dan keselamatan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat ta’dhim kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat beliau.
SHALAWAT NUU-RIDZ DZAA-TII
Allahumma Shalli Wa Sallim Wa Baa-rik ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadinin Nuu-ridz Dzaa-tii Was Sirris Saa-rii Fii Saairil Asmaai Wash Shifaa-ti Wa ‘Alaa Aa-lihii Wa Shahbihii Ajma’iin.
Ya Allah berilah rahmat, keselamatan dan barakah kepada junjungan kami Nabi Muhammad cahaya inti dan rahasia yang menjalar pada setiap nama dan sifat dan kepada keluarga dan sahabatnya semua.
SHALAWAT NURIL WUJUD
Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalaa-ta Nuu-ril Wujuud. Wa Imaa-mi Kulli Maujuud. Yu-shalluu ‘Alaihi Yaa Akramal Akramiin. Yaa Asraa-ru Yaa Abraar. Bisirri Wa Shifaa-til Kamaa-liyyah. Bi‘adadish Shiddii-qiyyah. Wa Ma’rifatil ‘Uluu-mil Ladduu-niyyah. Bith Tharii-qatil Muhammadiyyah. Wal Mahabbatil Mahbuu-biyyah. Birahmatika Yaa Ar-hamar Raa-himiin.
Ya Allah berilah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan rahmat cahaya yang ada. Dan pemimpin setiap suatu yang ada. Mereka membaca shalawat kepadanya wahai hamba yang mulia diantara hamba-hamba yang mulia. Wahai hamba yang mengetahui beberapa rahasia, wahai hamba yang berbuat baik dengan rahasia dan sifat-sifat sempurna. Sebanyak sesuatu yang benar. Mengetahui ilmu-ilmu laduni dengan jalan yang terpuji  dengan jalannya Nabi Muhammad. Dan kecintaan yang amat dicintai. Dengan kasih sayang-Mu Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang pengasih.

 SHALAWAT TUNJII-NA MIN JAMII’IL HARAKAAT
Allahumma Shalli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Shalaa-tan Tunjii-naa Min Jamii’il Harakaa-ti Was Sakanaa-ti Wat Taqallubaa-ti Wa Kifaa-yatal Lijamii’il Muhimmaa-ti Wal Mulimmaa-ti Wal Adiyyaat. Wa Hif-dham Min Jamii’il Baliyyaa-ti Wal ‘Aa-haa-ti Wal Aa-faa-ti Wa Taq-dlii Lanaa Bihaa Min Jamii’il Haa-jaa-ti Wa Tu-thahhirunaa Bihaa Jamii’as Sayyiaa-ti Wa Tarfa’unaa Bihaa ‘Indaka A’lad Darajaa-ti Wa I’aa-natan ‘Alaa Jamii’ith Thaa’aa-til Maf-ruu-dlaa-ti Wal Manduu-baat. Wa Musaa-ra’atan Ilal Khairaat. Wa Jiddan Fil A’maa-lish Shaa-lihaa-til Muqarribaa-ti Fil Hayaa-ti Wa Ba’dal Mamaat. Innaka ‘Alaa Kulli Syai”in Qadiir.
Ya Allah curahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan shalawat yang dapat menyelamatkan kami dari segala perubahan, terhindar dari segala kesedihan, bencana dan penderitaan, terpelihara dari semua bala’, penyakit dan wabah, yang dapat meluluskan kami karena dari semua hajat, yang membersihkan kami karenanya semua keburukan, yang dapat mengangkat derajat kami disisiMu dengan setinggi-tingginya, pertolongan untuk dapat melaksanakan keta’atan  yang wajib dan yang sunnah, bergegas-gegas dalam kebaikan, sungguh-sungguh dalam beramal shaleh, dalam hidup ini dan setelah mati. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
...................000000000...................









DO’A AKHIR MAJELIS
Bismillahir Rahmaa-nir Rahiim.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang.
Al Hamdulillahi Rabbil ‘Aa-lamiin. Allahumma Shalli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Fil Awwalii-na Wal Aa-khiriin. Wa Shalli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Fin Nabiyyii-na Wal Mursaliin. Wa Shalli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Fii Kulli Waqtiw Wa Hiin. Wa Shalli Wa Sallim ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Fil Malaail A’laa Ilaa Yaumid Diin.
Segala puji bagi Allah pemilik alam semesta. Ya Allah limpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada junjungan kami Muhammad dan orang-orang awal dan akhir. Dan  limpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada junjungan kami Muhammad di para nabi-nabi dan utusan-utusan. Dan  limpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada junjungan kami Muhammad disetiap waktu dan saat. Dan  limpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada junjungan kami Muhammad di alam yang tinggi sampai hari kebangkitan.
Allahummagh-firlanaa Dzunuu-banaa Wa Liwaa-lidii-na Wa Ma-syaa-yi-khinaa Wa Mu’alliminaa Wa Waa-lidii-him Wal Haa-dlirii-na Wa Jamii’il Mus-limii-na Wal Mus-limaat. Wal Mukminii-na Wal Mukminaat. Al Ah-yaai Min-hum Wal Amwaat. Waj’alnaa Min ‘Ibaa-dikash Shaa-lihii-nal Muf-lihii-nal Munjihii-nal Faaizii-nal Baarrii-nan Naa’imii-nal Faa-rihii-nal Mas-ruu-rii-na Wal Mustab-syirii-nal Muth-mainnii-nal Aa-minii-nal la-dzii-na Laa Khaufun ‘Alaihim Wa Laa Hum Yahzanuun.
Ya Allah ampunilah dosa dosa kami dan orang-orang tua kami dan guru-guru kami  dan syeikh-syeikh  kami dan orang-orang alim kami dan orang-orang tua mereka dan para hadirin dan seluruh muslimin dan muslimat dan orang-orang beriman laki-laki dan perempuan-perempuan, yang hidup atau yang telah meninggal. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang shaleh yang beruntung, yang selamat, menang, nampak, yang mendapatkan kenikmatan yang gembira, yang riang gembira, yang mendapatkan kabar gembira, yang tenang, yang aman, dan bagi mereka tidak ada takut dan tidak ada kesedihan,
Waj’alnaa Minar Raa-dlii-nal Mar-dliyyii-nal Haa-dii-nal Muhtadiin. Wa Man Ha-dlara Haa-dzal Jam’al ‘A-dhiim. Yaktubuhullahu Minal Muttaqii-na Wash Shaa-lihiin.
Dan jadikanlah kami dari golongan orang-orang yang diridhai dan mendapatkan ridha dan yang diberi petunjuk dan medapat petunjuk. Dan kehadiran ditempat perkumpulan besar ini dicatat oleh Allah termasuk orang-orang yang bertaqwa dan shaleh.
Allahumma Innaa Nasalukat Taubatan Nu-shuuh, Wal Futuuh, Wal Munuuh, War Rusuuh, Wa Shalaa-hal Jasadi War Ruuh.
Ya Allah aku mohon kepadaMu Taubatan Nasuha dan mendapatkan futuh  (yang membuka Ma’rifat), Al Munuh (keterbukaan) dan kedalaman (rusuh/ilmu) dan kebaikan dalam jasad dan ruh.
Wa Bihu-dluu’i Khu-syuu’i Dumuu’i A’yunil Baa-kiin. Wa Birajii-fi Wajii-fi Quluu-bil Khaaifiin. Wa Bitarannumi Thawaa-tiri Khawaa-thiril Waa-shiliin. Wa Biranii-ni Wanii-ni Hanii-ni Anii-nil Mudz-nibiin.
Dan dengan kepatuhan, ketakutan air mata–air mata  dari mereka yang menangis dan dari ketakutan dari hati-hati  yang takut dan dengan nyanyian ketukan-ketukan kekhususan orang-orang yang wushul  dan dengan getaran-getaran hati orang yang mengakui dosa.
Allahumma Innaa Nasaluka Bimau-dli’ika Fii Quluu-bil ‘Aa-rifiin. Wabibahaai Kamaa-li Jalaa-li Jamaa-li Sirrika Fii Saairil Muqarrabiin. Wa Daqaaiqi Tharaaiqis Saa-daa-til Faa-iziin. Wa Bitauhii-di Tam-hii-di Tamjii-di Tahmii-di Alsinatidz Dzaa-kiriin.
Ya Allah kami mohon kepada-Mu di hati-hatinya orang-orang arifin dan dari kecemerlangan, kesempurnaan, keagungan, keindahan rahasia-Mu diseluruh orang-orang muqarrabin. Dan dengan kehalusan jalan-jalannya para sadah yang beruntung, yang dengan ketauhidan, kebesaran, keagungan pujian  dengan lisan-lisan orang yang berdzikir.
Yaa Hayyu Yaa Qayyuu-mu Birahmatika Nasta-ghii-tsu Yaa Mu-ghii-tsu A-ghits-naa Yaa Ghau-tsal Musta-ghii-tsiin. Wa Yaa Mu’thiyas Saailiin. Wa Muntahaa Ragh-batir Raa-ghibiin. Wa Munaffisal Mak-ruu-biin. Wa Mufarrijal Magh-muu-miin. Wa Sharii-khal Mustash-rihiin.
Wahai Yang Maha Hidup, Yang Mengurusi makhluk, dengan rahmat-Mu kami mohon pertolongan, Wahai Yang Maha Menolong tolonglah kami, Wahai Yang Maha Menolong orang-orang yang meminta pertolongan, Wahai Yang Maha Memberi bagi orang-orang yang meminta dan puncak dari orang-orang yang mempunyai keinginan, Yang membuka orang-orang yang mendapat malapetaka, yang meluluskan orang-orang yang mendapatkan kegundahan dan teriakan-teriakan orang-orang yang berteriak.
Yaa Ak-ramal Ak-ramiin. Yaa Ajwadal Ajwadiin. Wa Yaa As-ra’al Haasibiin. Wa Ya’khu-dzu Aidii-naa Ilaa Maa Fii-hi Shalaa-hul Li Amri Ma’aa-shii-na Wa Ma’aa-diin. Wa Biwujuu-di Wajdi Wujuu-dika Wa Wujuu-dihim Laka Fii Ghawaa-mi-dli Afidati Sirril Muhibbiin. Yaa Ar-hamar Raa-himiin. Yaa Rabbal ‘Aa-lamiin.
Wahai Yang Maha Mulia dari segala yang mulia, Wahai Yang Maha Dermawan dari segala yang dermawan, Wahai Yang Maha Cepat perhitunganNya dan mengambil tangan-tangan kami apa yang berguna bagi urusan-urusan orang-orang maksiat dan orang-orang yang kembali. Dan dengan kewajiban wujudMu dan wujud mereka bagiMu dari pada kesulitan-kesulitan kami, hati-hati rahasia orang yang mencintai. Wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Wahai Tuhan pemilik alam semesta,
Allahumma Fath-li’ ‘Alaa Wujuu-dinaa Syamsi Syuhuu-dinaa Fil Akwaan. Wa Nawwir Wujuu-dinaa Binuu-ri Wujuu-dika Fii Kulli Ah-yaan. Wa Ad-khilnaa Fii Riyaa-dlil ‘Aa-fiyati Wal ‘Iyaan.
Ya Allah maka terbitkanlah atas wujud kami matahari kesaksian kami di alam cakrawala dan cahayakanlah wujud kami dicahaya wujud-Mu diseluruh keadaan. Dan masukkanlah kami di taman-taman afiyah dan pandangan-pandangan.
Yaa Qawiyyal Arkaan. Yaa Mar Rahmatuhuu Fii Makaan. Wa Fii Haa-dzal Makaan. Yaa Mal Laa Yakh-luu Min-hu Makaan. Yaa Hannaa-nu Yaa Mannaan. Yaa Rahii-mu Yaa Rahmaan. Yaa Dzal ‘Izzati Wal Bur-haan. Yaa Dzar Rahmati Wal Ghuf-raan. Yaa Dzal Fadl-li Wal Ihsaan.
Dan kuatkanlah rukun-rukun kami, wahai siapa yang rahmatnya ditempat ini, wahai siapa yang memenuhi tempat kosong, Wahai Yang Maha Berbelas kasih, Wahai Yang Maha Pemberi, Wahai Yang Maha Penyayang, Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Yang Maha Mulia dan Penjelasan. Wahai Yang Maha Rahmat dan Pengampun, Wahai Yang Maha Utama dan Baik.
Allahummaj’alnaa Minal Hudaa-til Muhtadii-nal Muwaffaqii-nal Man-dhuu-rii-nal Mah-ruu-sii-nash Shaa-diqii-na ‘Alaa Sayyidil Mursalii-na Wa Imaa-mil Muttaqii-na Wa Khaa-tamin Nabiyyii-na Muhammadin Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Aa-lihii Wa Shahbihii Ajma’iin.
Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dan taufik dan memandang orang yang terjaga yang benar atas segala Rasul dan Imam atas semua orang yang taqwa dan penutup para nabi-nabi Muhammad SAW dan para keluarga dan sahabat seluruhnya.
Allahumma Innaa Nasalukal Hudaa Wat Tuqaa Wal ‘Afaa-fa Wal Ghinaa Wal Istiqaa-mah.
Ya Allah aku mohon kepadaMu hidayah dan taqwa dan menjaga diri dan kekayaan dan istiqomah
Wa Annallaha Yarzuqunaa Mahabbatahuu Wa Thaa’atahuu Wa Mutaa-ba’atahuu Wa Syafaa’atah. Wa Ay Yah-syuranaa Fii Zumratihii Wa Tahta Liwaaih. Wa Ay Yasqii-naa Min Hau-dlihii Biyadihisy Syarii-fati Syarbatal Laa Nadh-mau Ba’dahaa Abadaa.
Dan semoga Allah memberi rejeqi kepada kami dan kecintaan kepadanya, taat kepadanya dan pertolongannya dan agar menggiring kami di kelompoknya dan dibawah benderanya. Dan menuangkan kepada kami minuman dari telaganya dengan tangannya yang mulia dan minuman yang tidak haus setelahnya selamanya.
Wa Annallaha Yaj’aluhaa Ziyaa-ratam Maqbuu-lataw Wa Dzambam Magh-fuu-raw Wa Sa’yam Masy-kuu-raw Wa Tijaa-ratan Lan Tabuur. Birahmatika Yaa Ar-hamar Raa-himiin.
Dan semoga Allah menjadikannya ziarah yang diterima dan dosa-dosa yang diampuni dan sa’i yang disyukuri dan dagangan yang tidak sia-sia dengan rahmat-Mu Wahai Allah Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.
Allahummaj’al Jam’anaa Haa-dzaa Jam’am Mar-huu-maa. Wa Tafarruqanaa Mim Ba’dihii Tafarruqam Ma’shuu-maa.
Ya Allah jadikanlah perkumpulan kami, perkumpulan yang dirahmati dan perpisahan kami setelah itu dengan perpisahan yang tersuci dari dosa.
Wa Laa Taj’alillahumma Fii-na Wa Laa Minnaa Wa Laa Ma’anaa Syaqiyyaw Wa Laa Mahruu-maw Wa Laa Magh-ruu-raw Wa Laa Ma’shuu-maa.
Dan jangan Engkau jadikan bagi kami dan dari kami dan bersama kami dan orang–orang yang sengsara dan orang yang tidak dapat apa-apa dan orang yang tertipu dan orang yang berbuat maksiat.
(Allahumma Magh-firatuka Au Sa’u Min Dzunuu-binaa Wa Rahmatuka Arjaa ‘Indanaa Min A’maa-linaa 3x) 
Ya Allah ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami  dan ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami  dan rahmat-Mu sangat kami harapkan dari amal-amal kami.
Allahummar-ham Ta-dlarru’anaa Wajbur Inkisaa-ranaa Waqbal Du’aa-naa. Wakh-tim Bish Shaa-lihaa-ti A’maa-lanaa Wa A’maa-ranaa Wa ‘Alal Ii-maa-ni Wal Islaa-mi Jamii’an Tawaffanaa. Wa Anta Raa-dlin ‘Annaa.
Ya Allah berbelas kasihlah atas kerendahan kami kepada-Mu kuatkanlah kepatuhan hati kami dan terimalah doa kami dan tutuplah dengan keshalehan-keshalehan  amal-amal kami dan umur-umur kami dan atas iman dan islam seluruhnya maka wafatkanlah  dan Engkau ridha  pada kami.
Wa Laa Tuh-yinallahumma Fii Ghaf-lah. Walaa Ta’-khudz-naa ‘Alaa Ghirrah. Waj’al Aa-khira Kalaa-minaa Minad Dun-yaa ‘Indantihaai Aa-jaa-linaa Qaula : Laa Ilaa-ha Illallahu Muhammadur Rasuu-lullahi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Dan Janganlah Engkau menghidupkan kami dengan kelengahan  dan jangan Engkau ambil kami diatas kebanggaan dan akhirkanlah dari dunia ini dikala habis ajal kami dengan perkataan tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah”.
Ah-yinaa ‘Alaihaa Yaa Hayyu Wa Amitnaa ‘Alaihaa Yaa Mumii-tu Wab‘ats-naa ‘Alaihaa Yaa Baa’i-ts. Wanfa’naa Warfa’naa Bihaa Yauma Laa Yanfa’u Maa-luw Wa Laa Banuu-na Illaa Man Atallaha Biqalbin Saliim.
Hidupkanlah kami dengannya Wahai Yang Maha Hidup dan matikanlah kami dengannya Wahai Yang Maha Mematikan dan bangkitkanlah kami Wahai Yang Maha Membangkitkan dan berikanlah kami kemanfaatan dan tinggikanlah kami dengannya dihari yang tidak berguna harta dan anak-anak kecuali yang datang kepadanya dengan hati  yang selamat.
Rabbanaa Aa-tinaa Fid Dun-yaa Hasanataw Wa Fil Aa-khirati Hasanataw Wa Qinaa ‘A-dzaa-ban Naar.
Wahai Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.
Shallallahu Wa Sallama Af-dlala Wa Azkaa Shalaa-tiw Wa Tas-lii-min ‘Alaa Af-dlali ‘Ibaa-dika Ajma’ii-na Min Ahlis Samaa-waa-ti Wal Ara-dlii-na Muhammadin Khaa-tamil Ambiyaai Wal Mursalii-na Wa ‘Alaa Aa-lihii Wa Shahbihii Ajma’ii-na Shalaa-taw Wa Salaa-man Daaimaini Baa-qiyaini Mutalaa-zimaini Ilaa Yaumid Diin.
Shalawat dan salam yang seutama-utamanya, sesuci-sucinya dan salam atas seutama-utamanya hamba-Mu seluruhnya dari penduduk langit dan bumi, Muhammad penutup dari para nabi dan Rasul-rasul dan pada keluarganya dan sahabatnya seluruhnya dengan shalawat dan salam selamanya, kekal lazim sampai hari kebangkitan.
Bi Fadl-li Sub-haa-na Rabbika Rabbil ‘Izzati ‘Ammaa Ya-shifuu-na Wa Salaa-mun ‘Alal Mursalii-na Wal Hamdulillahi Rabbil ‘Aa-lamiin.
Maha Suci Tuhanmu (Allah) Tuhan segala keperkasaan, Tuhan yang bersih dari sifat yang diberikan oleh orang-orang kafir, semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada para utusan-Nya dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
...................000000000...................